Harga emas (XAU/USD) naik hingga sekitar 4.670, tertinggi sejak 14 Mei, selama sesi awal Asia pada hari Rabu. Logam mulia ini memperpanjang reli di tengah melemahnya Dolar AS (USD) dan rencana pembelian kembali obligasi oleh Departemen Keuangan AS.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pekan lalu bahwa pemerintah dapat meningkatkan pembelian kembali obligasi melebihi $4 miliar, sehari setelah departemen tersebut mengumumkan rencana untuk menggandakan pembelian kembali sekuritas jangka panjang. Langkah ini telah menyeret imbal hasil jangka panjang lebih rendah dan memicu aksi beli kembali (short-covering) besar-besaran.Melemahnya Dolar AS membuat emas berdenominasi USD menarik bagi pemegang mata uang asing, sementara imbal hasil obligasi pemerintah yang lebih rendah mengurangi biaya peluang untuk membeli emas batangan.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengumumkan perluasan sanksi sekunder yang dapat dikenakan pada entitas dan negara yang mempertahankan hubungan bisnis dengan Iran di seluruh dunia, menurut Reuters. Meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran dapat meningkatkan kekhawatiran inflasi yang didorong oleh energi dan meningkatkan prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed) dalam beberapa bulan mendatang. Hal ini, pada gilirannya, dapat membatasi potensi kenaikan harga emas. Emas sering digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi tetapi tidak menghasilkan bunga, sehingga kurang menarik ketika suku bunga tinggi.

Para pedagang akan memantau dengan cermat pidato Ketua Federal Reserve AS (Fed) Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole pada hari Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang prospek suku bunga.